Dari data yang didapatkan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 1 dari 6,8 orang mengalami gangguan jiwa di tempat kerja atau sekitar 14,7 persen. Wanita yang bekerja penuh waktu hampir 2 kali lebih besar menderita masalah kesehatan jiwa dibandingkan dengan laki-laki yang bekerja penuh waktu. Sementara itu, Mansyur, Muchtaruddin, peneliti dari Universitas Indonesia pernah melakukan survei pada salah satu perusahaan kimia dengan melibatkan lebih dari 1900 pekerja sebagai responden dan hasilnya lebih dari 20 persen di antara pekerja itu mengalami gangguan kesehatan jiwa.

Waspadai Gangguan Jiwa di Tempat Kerja. Foto: alcoholawareness.org

Melihat fenomena gunung es masalah gangguan jiwa di tempat kerja yang banyak tak disadari orang maka Kementerian Kesehatan RI menyelenggarakan seminar bertema “Kesehatan Jiwa di Tempat Kerja” tanggal 4 Oktober 2017.

Hari Kesehatan Jiwa Sedunia

Dr. dr. Fidiansjah, Sp.KJ, MPH, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza, menjelaskan definisi kesehatan berdasarkan UU.Kes. No. 36 Tahun 2009, yang menyebutkan bahwa kesehatan merupakan keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual, maupun sosial, yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

Waspadai Gangguan Jiwa. Foto: USA Today

Dari laman who.int dijelaskan bahwa WHO, badan kesehatan dunia PBB, telah menetapkan Hari Kesehatan Sedunia. Perayaan ini pertama kali diselenggarakan pada 10 Oktober 1992 atas inisiatif World Federation for Mental Health, organisasi dunia dengan member lebih dari 150 negara. Tujuan dari penetapan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia ini adalah meningkatkan kesadaran seluruh warga dunia akan pentingnya masalah kesehatan jiwa serta memobilisasi segala upaya untuk mendukung kesehatan jiwa. Selain itu, peringatan yang diselenggarakan oleh negara-negara di dunia secara rutin setiap tahun ini diharapkan dapat mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk bahu-membahu dalam rangka mewujudkan masyarakat yang sehat jiwanya di seluruh dunia.

Penyebab dan Gejala Gangguan Jiwa di Tempat Kerja

Pekerja yang menghabiskan waktu kurang lebih 8 hingga 12 jam di tempat kerja, belum termasuk lamanya waktu perjalanan menuju dan dari tempat kerja ke rumah, rentan sekali dengan risiko terkena berbagai penyakit, juga terkena penyakit gangguan jiwa. Penyebabnya bisa bermacam-macam, seperti karena proses kerja, lingkungan kerja, atau perilaku dan gaya hidup pekerjanya sendiri. Tempat kerja yang sehat tentu akan mendukung terciptanya pekerja-pekerja yang sehat secara fisik dan mental. Sebaliknya, jika tempat kerja tidak sehat maka sangat berpengaruh pada kesehatan pekerjanya.

Jika diperinci, ada beberapa penyebab terjadinya masalah kesehatan jiwa, antara lain: beban kerja yang terlalu banyak, tekanan dalam pekerjaan yang dipenuhi dengan ketegangan dan tuntutan, organisasi kerja yang tidak teratur dan tidak memiliki sistem kerja yang baik. hubungan interpersonal antarpekerja yang kurang baik, komunikasi yang buruk dalam lingkungan kerja, kerja-shift yang menyebabkan pekerja jadi memiliki waktu tidur yang tak teratur, lokasi kerja, kekerasan yang terjadi di tempat kerja, penggunaan narkotika, pelecehan, dan sebagainya.

Gejala yang bisa dikenal pada pekerja yang mengalami masalah kesehatan dan gangguan jiwa, seperti kesulitan berkonsentrasi dalam mengerjakan sesuatu sehingga banyak pekerjaannya yang tidak selesai, sulit mengambil keputusan bahkan dalam situasi yang paling sederhana, sulit mengingat, terlihat cemas dan depresi, yang kemudian berakibat pada penuruan fungsi kerja serta produktivitas secara signifikan.

Apa yang Harus Dilakukan?

  1. Lakukan pemeriksaan prakerja, artinya pada saat penerimaan pekerja ada baiknya perusahaan melakukan pemeriksaan pada calon pekerja. Pemeriksaan kesehatan ini harus meliputi kesehatan fisik dan mental.
  2. Pemeriksaan secara berkala pada pekerja.
  3. Pemeriksaan khusus yang dilakukan dengan teliti dan mendetail perlu dilakukan pada pekerja yang telah menunjukkan gejala masalah kesehatan ataupun gangguan jiwa.
  4. Melakukan pemeriksaan secara menyeluruh (bisa dalam bentuk melakukan survei secara rutin) untuk mengetahui kondisi lingkungan kerja secara pasti dari seluruh pekerja yang berada di dalam lingkungan tersebut.

Pencegahan Masalah Kesehatan Jiwa di Tempat Kerja

  1. Perusahaan perlu secara aktif melakukan identifikasi potensi bahaya penyakit akibat kerja.
  2. Promosi kesehatan kerja sesuai dengan hasil identifikasi potensi bahaya yang ada di tempat kerja.
  3. Melakukan pengendalian potensi bahaya di tempat kerja.
  4. Pemberian informasi mengenai alat melindungi diri yang sesuai dengan potensi bahaya di tempat kerja.
  5. Menyelenggarakan sesi konsuling bagi pekerja-pekerja yang memiliki masalah tertentu berkaitan beban kerja, peraturan kerja, konflik di tempat kerja, dan sebagainya.
  6. Memberi informasi kepada para pekerja mengenai gejala despresi dan stres yang perlu diwaspadai dan terjadi di tempat kerja.

5 COMMENTS

  1. Memnag terkadang tempat kerja bisa membuat mood boster dan bad mood. Seperti pengalaman aku sendiri didunia proggramming memang kadang seru kadang jenuh karena selalu berhadapan dengan coding dan laptop. Kita yang harus mengontrol kerjaan dan jadikan kerjaan adalah passion kita. Butuh metime seh supaya tidak stress banget.

  2. aduh berarti bisa terjadi pada kepala keluarga nih yg seharian bekerja berangkat pagi pulang malam, istirahat hanya di malam hari itupun langsung tidur mungkin.
    apalagi masalah obat-obatan ya tentu kita sebagai orangtua harus jeli dan peka pada dunia lingkungan anak anak kita, karena bahayanya narkoba ini bisa menyerang siapa saja yang diinginkan. selain kudu kuat akan godaanya.

  3. Saat ini memang fenomena wanita bekerja menjadi marak. Nah perlunya pemahaman bahwa bekerja meskipun dalam tekanan tapi tetep harus menjaga kesehatan jiwanya. Supaya tidak stres dan tetap bisa menjalankan kewajiban beban kerjanya dengan baik. Semoga bermanfaat,nice artikel

  4. Nah, iya… Di perusahaan2 di Indonesia masih jarang yang punya bagian konseling terkait emosi dan beban para pekerjanya. Seperti di Jepang atau Jerman yg memang tiap perusahaan mengharuskan ada divisi konseling buat pekerja. Mudah2an Indonesia kedepannya sudah bisa menerapkan hal ini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here