Banyak wisatawan yang tak bisa menolak jika dihadapkan pada pesona Wamena yang luar biasa. Wamena berada di daerah pegunungan yang terletak di Kabupaten Jayawijaya, Papua. Dengan kondisi geografisnya yang berada di pegunungan, ada tantangan tersendiri untuk tiba di tempat ini. Pastinya, kita harus menempuh perjalanan udara dengan jadwal penerbangan yang tersedia hanya 4 kali dalam seminggu dari Bandara Udara Sentani Jayapura menuju Wamena. Selain itu, keempat jadwal penerbangan hanya dilakukan pada pagi dan siang hari. Tidak ada jadwal penerbangan pada sore atau malam hari karena faktor cuaca yang tidak bersahabat.

Jika kita memulai perjalanan dari Jakarta maka persiapkan diri untuk menempuh perjalanan panjang. Penerbangan dari Jakarta menuju Wamena memerlukan waktu kurang lebih delapan jam. Meski begitu, rasa lelah akibat perjalanan yang kita lalui tadi seketika sirna begitu melihat keindahan alam Lembah Baliem yang merupakan salah satu pesona Wamena.

Lembah Baliem merupakan tempat tinggal suku Dani, penduduk asli Papua, yang masih menggunakan koteka. Iya, koteka. Mereka tidak mengenakan baju dan hanya mengenakan penutup kemaluan yang disebut koteka. Selain tidak terbiasa mengenakan baju, masyarakat suku Dani yang hidup di desa-desa di pelosok kabupaten Jayawijaya juga belum terbiasa menggunakan sandal sebagai alas kaki.

Mengenal Pesona Wamena Lain Melalui Kebudayaan Setempat

Kebiasaan lain masyarakat di sana yang membuat saya sempat heran, mereka senang sekali berjalan atau sekadar berdiri di pinggir jalan bersama dengan hewan peliharaan mereka, yaitu babi dan anjing. Saya juga menemukan pemandangan langka yang jarang saya temukan di kota besar, seperti Jakarta. Di pinggir kota Wamena, seperti di Wolo, manusia dan hewan saling berbagi tempat tinggal. Wolo bisa ditempuh dalam waktu setengah jam perjalanan dari Wamena dengan menggunakan mobil atau sepeda motor.

Bagi pengendara kendaraan bermotor harus sangat berhati-hati jangan sampai menyerempet, apalagi sampai menabrak anjing atau babi milik penduduk setempat yang bebas berkeliaran di sepanjang jalan. Jika apes menabrak hewan-hewan tersebut, terutama babi, maka siap-siap saja mengeluarkan uang penggantian minimal 30 juta. Harga itu pun hanya untuk mengganti bayi babi… hahaha. Bisa terbayangkan berapa uang yang harus dikeluarkan kalau sampai menabrak ibu atau bapak babi? Dijamin langsung sakit kepala dibuatnya. Bagaimana jika tidak dapat mengganti? Wah, bisa berujung kematian atau utang panjang yang tak berkesudahan. Babi menjadi hewan mahal bagi masyarakat Papua karena hewan ini digunakan untuk upacara adat.

Selain dimanjakan dengan pesona pegunungan yang masih perawan, kita bisa pula menikmati kopi Wamena yang lezat hasil dari tanaman kopi organik. Mengapa disebut kopi organik? Karena kebanyakan tanaman kopi di sini tumbuh di balik pohon-pohon besar di hutan dan tanpa terpolusi dengan pupuk kimia. Kelezatan kopi Wamena ini akhirnya menarik perhatian Pemerintah sehingga memberi pendampingan khusus kepada petani kopi Wamena dengan harapan agar kopi Wamena bisa menjadi komoditas ekspor dan dikenal masyarakat dunia.

Sama seperti daerah lain yang ada di Indonesia, Wamena memiliki benda-benda budaya yang menjadi ciri khas daerah setempat. Bend budaya tersebut berbentuk kapak batu, yang merupakan salah satu benda penting dalam kehidupan masyarakat Wamena. Kapak batu sering dijadikan sebagai cinderamata bagi tamu kehormatan. Selain itu, kapak batu ini sering pula digunakan sebagai mas kawin. Jadi jangan heran jika kapak batu memiliki harga fantastis karena memang memiliki makna sakral bagi kehidupan masyarakat Wamena.

Benda-benda Khas Wamena

Pembangunan infrastruktur terus dilakukan pemerintah untuk mempermudah transportasi dan akomodasi antara penduduk asli yang tinggal di desa dengan masyarakat kota Wamena. Sayangnya pendidikan di kabupaten Jayawijaya ini belum merata. Hal ini terlihat dari masih sedikitnya tersedia sekolah, terutama di desa-desa yang berada di atas bukit.

Jika dilihat dari kemampuan ekonomi, masih terdapat kesenjangan antara penduduk yang tinggal di kota Wamena dengan penduduk asli yang tinggal di atas bukit dan sekitar lembah. Penduduk yang berada di wilayah terpencil belum mengenal listrik dan masih hidup dalam satu rumah besar yang menampung beberapa keluarga sekaligus.

Susahnya akomodasi dan tranportasi ke Wamena menyebabkan harga barang apa pun di kota ini dibandrol dengan harga luar biasa. Untuk satu botol air mineral ukuran 600ml dibandrol dengan harga 12 ribu rupiah. Itu harga eceran termurah. Barang kebutuhan lain juga banyak yang dibandrol dengan harga yang bikin mata membeliak lebar.

Saat perjalanan mengelilingi Lembah Baliem, saya melihat banyak “mama-mama” berdiri di pinggir jalan dekat jembatan dan menawarkan ikan sungai. Saya sempat berhenti sejenak untuk menawar ikan yang mereka jajakan. Saya yakin, kalian pasti akan bereaksi sama seperti saya, membelalakkan kedua mata, begitu mendengar harga ikan yang mereka tawarkan. Untuk satu ikat ikan segar berisi sekitar 10-15 ikan berukuran kecil dibandrol dengan harga 175 ribu rupiah. Wow banget, kan, harganya? Dari sini bisa kita simpulkan bahwa dibutuhkan persiapan dana yang cukup besar jika ingin jalan-jalan ke Wamena karena biaya hidup di sini tinggi. Untuk satu bungkus nasi ayam dengan lalapan dan sambal saja kita harus membayar 65 ribu rupiah.

Tidak bisa berbahasa daerah setempat sehingga takut berkunjung dan menikmati pesona Wamena? Ah, kalau ini sih kita sudah tak perlu khawatir lagi. Bahasa pengantar tetap menggunakan bahasa Indonesia. Sementara itu, kita juga bisa menemukan orang-orang yang berbahasa Jawa karena sebagian masyarakat kota Wamena berasal dari suku luar Papua, seperti Jawa, Makasar, dan Merauke. Dengan kata lain, kalau kita terbiasa berbahasa Jawa, di Wamena pun kita tetap bisa menggunakan bahasa ini dalam percakapan karena memang di sana sudah banyak pendatang yang berasal dari pulau Jawa.

Jadi, kapan kamu travelling dan menikmati keindahan pesona Wamena secara langsung?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here