Bicara tentang kesehatan tentu tak lepas dari permasalahan kurang gizi. Berdasarkan data akhir tahun 2017, data status gizi di Papua secara umum cukup baik. Namun, secara khusus, di Kabupaten Asmat mengalami kenaikan cukup besar untuk persentase kekurangan gizi.

Kurang gizi dan penyakit infeksi seperti diare dan campak saling mempengaruhi. Jika ada seorang anak yang sakit campak maupun diare, akan berpengaruh pada nafsu makan dan kemungkinan mengalami kekurangan gizi. Untuk kasus diare, mungkin bisa diatasi dengan pemberian larutan oralit (gula dan garam). Namun, untuk kasus campak, penanggulangannya lebih sulit.

Bagaimana cara mengurangi angka kurang gizi? Salah satu caranya dengan menanggulangi penyakit campak. Campak adalah penyakit yang bisa menyerang sistem pernapasan dan sistem kekebalan tubuh. Sebenarnya campak bukanlah penyakit yang berbahaya jika ditangani dengan cara tepat. Campak bisa dicegah dengan imunisasi.

Program imunisasi pun terus digalakkan oleh pemerintah, dalam hal ini Kementerian Kesehatan, yaitu melalui program pemberian vaksin MR. Vaksin MR melindungi tubuh dari dua jenis campak, yakni measles (campak) dan rubella (campak jerman). Apabila terdiagnosis campak, pasien langsung ditangani dengan antibiotik oleh dokter serta diberi asupan nutrisi optimal dan vitamin A. Pemantauan harus dilakukan untuk anak yang terkena campak, khususnya memantau perkembangan berat badan. Disarankan agar memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan secara menyeluruh jika mengalami penurunan berat badan.

Tak hanya vaksin MR, pemerintah juga beberapa waktu lalu menggalakkan pencegahan penyakit difteri dengan cara pemberian imunisasi DPT. Hingga bulan Januari 2018, kasus difteri mengalami penurunan. Namun, pemerintah tetap mengampanyekan pencegahan difteri.

“Untuk kasus di tahun 2018, hingga saat ini tidak ada kematian akibat difteri,” ucap Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes RI, drg. Oscar Primadi, MPH, di Kantor Kementerian Kesehatan RI, Jakarta Selatan.

Kemenkes memantau tren kasus Difteri dan mencatat kecenderungan penurunan kasus difteri pada minggu pertama Januari 2018, sempat terlihat kecenderungan peningkatan pada hari ke-9 dan ke-10, namun selanjutnya mengalami penurunan kembali pada hari ke-11 sampai 15 pada bulan Januari 2018.

Memasuki pekan kedua Januari 2018, putaran kedua outbreak response immunization (ORI) juga mulai dilaksanakan untuk 12 kabupaten/kota di tiga provinsi. Hasil capaian ORI putaran ke-2 di DKI Jakarta per 16 Januari 2018 pukul 19.00 WIB adalah 8,95%.

Sumber: sehatnegeriku.kemkes.go.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here