Pernah melihat ribuan kawanan burung terbang 5-10 meter dari tempatmu berdiri? Belum pernah? Datanglah ke Kampung Blekok, Desa Klatakan, Kecamatan Kendit, Kabupaten Situbondo, Provinsi Jawa Timur. Situbondo bisa menjadi salah satu pilihan kalau kamu sedang travelling ke Jawa Timur. Selain di Situbondo, Kampung Blekok juga bisa ditemui di Kelurahan Cisaranten Kidul, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat. Berdasarkan informasi, keberadaan burung blekok di Bandung mulai berkurang karena kian banyaknya pembangunan dan kurangnya lahan sebagai tempat mencari makan.

Kampung Blekok di Situbondo lokasinya tepat di hutan bakau (Rhizophora sp.). Untuk menikmati suguhan pemandangan berkala itu, kamu bisa datang pada pagi dan sore (menjelang malam). Saat pagi ribuan burung blekok terbang meninggalkan Kampung Blekok untuk mencari makan dan kembali lagi pada sore hari.  Situbondo memiliki garis pantai sepanjang 150 km, wajar jika bagian wilayah utara yang berbatasan dengan laut banyak ditemui hutan bakau.

Hutan bakau tak hanya menjadi pelindung bibir pantai, tapi juga sebagai habitat alami berbagai organisme, baik kepiting, ular, kura-kura, monyet, serangga, juga burung. Bakau tumbuh di atas rawa-rawa tepi pantai yang bergantung pada pasang surut air laut. Sebagai tempat hidup dan sumber makanan bagi berbagai organisme, tentu saja hutan bakau memegang peranan penting bagi keseimbangan ekosistem. Hutan bakau juga memberi kesempatan untuk memperluas daerah pantai secara alami.

Kampung Blekok memang sedang digalakkan untuk jadi tujuan wisata, tetapi perlu kajian khusus agar pengunjung bisa menikmati pemandangan alam tanpa mengganggu keberadaan ribuan burung tersebut. Sebab, naluri binatang, jika merasa terusik, tentu akan berpindah tempat.

Blekok atau kuntul sawah (Ardeola speciosa) dapat ditemui di seluruh dunia kecuali di daerah kutub. Tergolong dalam keluarga ardeidae (ordo ciconiiformes). Secara alami burung blekok adalah burung yang suka bermigrasi. Blekok suka daerah hangat dan bermigrasi dari daerah dingin pada musim gugur dan semi. Tak heran Indonesia menjadi salah satu tujuan migrasinya, karena Indonesia termasuk daerah hangat, termasuk Situbondo.

Jika dilihat sekilas, burung blekok sebagian besar ditutupi oleh bulu berwarna putih. Jika dilihat seksama, bagian kepala dan corat moret. Bagian bawah berwarna putih. Saat terbang cukup menakjubkan karena sayap berwarna putih mulus, kontras dengan warna punggungnya. Kakinya panjang memudahkan untuk berjalan di atas lumpur, leher dan paruhnya pun panjang sesuai dengan fungsinya.

Blekok termasuk karnivora dan secara alami membantu manusia sebagai pengendali hama serangga dan petunjuk pergantian musim. Kotorannya sangat berguna untuk menyuburkan tanah. Saat petani sedang membajak sawah, biasanya burung blekok berkumpul mencari makan. Atau saya biasa menemukan pengendali hama ini di sawah yang padinya baru ditanam. Kondisi ini menguntungkan burung blekok, karena akan leluasa berjalan di antara ruang kosong. Saat padi sudah berumpun dan semakin rapat, biasanya tak ada burung blekok lagi. Posisi mereka digantikan burung pemakan biji saat biji-biji padi mulai tumbuh.

Referensi:
– Earthhour.wwf.or.id
– Tempo.co
– Generasibiologi.co
– MacKinnon, J., k. Phillips, & B. Van Balen. 2010. Burung-burung di Sumatera, Jawa, Bali, dan Kalimantan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here