Baru-baru ini terjadi kasus kesehatan bernama difteri. Difteri adalah sebuah penyakit yang disebabkan oleh toksin yang dikeluarkan bakteri Corynebacterium diphteriae. Kasus difteri ini sudah terjadi pada tahun 2016 di Jawa Barat. Saat itu ada 14 kasus difteri dengan kematian 2 orang. Pada tahun 2017, difteri mulai menyebar ke seluruh Indonesia. Kasus tertinggi terjadi di Jawa Timur dengan 271 kasus dan 11 kematian. Difteri rata-rata menyerang anak-anak usia 3-14 tahun. Namun, tak menutup kemungkinan menyerang orang dewasa yang tak kebal terhadap difteri.

Pasien yang terinfeksi difteri mengalami gejala gejala seperti sakit flu, sakit kepala, lemas, suara serak/mengorok, demam dan menggigil, sesak napas, sulit menelan, selaput putih keabu-abuan pada mulut/hidung/tenggorokan, kelemahan otot, dan pembengkakan kelenjar getah bening pada leher. Difteri bisa menyebabkan komplikasi, seperti radang pada otot jantung (myokarditis), radang pada saraf (neuritis), penurunan trombosit (trombositopenia), dan protein pada urine (proteinuria).

sumber gambar: reportasenews.com

Perlu pemeriksaan secara khusus mengenai kepastian apakah pasien positif difteri atau tidak. Bakteri penyebab difteri sangat mudah menular melalui batuk atau bersin. Bahkan, ada kemungkinan penularannya melalui napas. Penyakit ini bisa diobati dengan rawat inap di rumah sakit, serta diberikan Anti Difteri Serum (ADS) dan antibiotik. Bahkan, orang terdekat pasien (keluarga atau teman) juga perlu antibiotik sesuai resep dokter. Produksi ADS termasuk langka dan masa expired-nya sebentar. Jadi, harus digunakan secara efektif. Saat ini, Kementerian Kesehatan menyimpan stok ADS sebanyak 1.000 dosis.

Kelangkaan stok ADS ini tidak perlu dikhawatirkan. Difteri adalah penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Fungsi ADS hanya sebagai obat, sedangkan difteri bisa dicegah dengan imunisasi DPT di Posyandu atau Puskesmas. Selain anak-anak, orang dewasa juga bisa melakukan imunisasi DPT untuk meningkatkan kekebalan terhadap penyakit difteri.

“Kata kuncinya penyakit ini dapat dicegah dengan imunisasi. Tolong masyarakat mengerti dan kita mengerti semua. Jadi, untuk pencegahan tidak ada kata lain harus imunisasi,” tegas Mohamad Subuh, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI.

Kementerian Kesehatan telah melakukan Outbreak Response Immunization (ORI). Tanggal 11 Desember 2017 nanti, ORI akan dilakukan di 3 provinsi dengan jumlah total 12 kabupaten/kota. Sasaran ORI ada 7,9 juta anak usia 1-18 tahun. Untuk usia di atas 18 tahun, harus swadaya sendiri. Kedua belas kabupaten/kota itu adalah Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, Kabupaten Serang, Kota Serang, Kota Tangerang Selatan (Banten), Jakarta Utara, Jakarta Barat (DKI Jakarta), Purwakarta, Karawang, Depok, Kota Bekasi, dan Kabupaten Bekasi (Jawa Barat).

 

Sumber: sehatnegeriku.kemkes.go.id

6 COMMENTS

  1. Orang tua yg masih sok sok an menentang imunisasi tanpa mengetahui secara detil mengenai vaksin dan imunisasi, ayo dong mulai membuka pikirannya dan menyadari bhw utk bbrp penyakit, imunisasi merupakan salah satu usaha pencegahannya. Spt difteri ini,bisa dicegah dg imunisasi.

  2. Di pelosok masih banyak yg beranggapan imunisasi/vaksin itu cara halus umat yahudi untuk membunuh umat muslim.
    Lah, bukannya kebalik ya? Yg tidak imunisasi itu justru yg rentan sakit?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here