Waktu menunjukkan pukul 19.00 saat kami tiba di perempatan kawasan Khaosan, Bangkok, Thailand. Setelah menempuh lebih dari 7 jam perjalanan menggunakan bus dari Ho Chi Minh City, Vietnam, kami berempat tiba dengan selamat di kota Bangkok. Hanya berjalan sekitar 10 menit dari lokasi pemberhentian bus, kami menemukan hostel tempat menginap. Ternyata di hotel ini banyak orang Indonesia yang bermalam. Entah untuk traveling atau untuk berbelanja barang-barang murah grosiran di Bangkok. Ya, Bangkok memang surganya belanja.

Tarif hostel ini lumayan murah dan dekat dengan kawasan tujuan kami, yaitu Wat Pho dan Royal Palace. Setelah bersih-bersih badan dan menyimpan barang-barang, kami meluncur mencari makan malam. Daerah Khaosan tampak seperti Jalan Jaksa atau Sabang kalau di Jakarta. Inilah kawasan pusat pelancong. Deretan kafe dan penjual jajanan di trotoar menyambut para pejalan kaki yang ingin menikmati makan malam. Hati-hati, bagi yang Muslim, di sini banyak pork dengan berbagai jenis olahan masakan.

Karena bingung menentukan pilihan, akhirnya kami memilih makan burger dan kentang di restoran Amerika ternama. Ternyata di sana tersedia juga menu pork-nya. Setelah puas mengisi perut, kami berjalan berkeliling. Kami menemukan food street yang terkenal di Bangkok.

Wat Pho

Keesokan harinya, saatnya kami bertualang. Kami mencoba berjalan kaki mencari arah menuju Wat Pho. Dan, kami nyasar! Seni dari sebuah perjalanan bagi saya adalah ketika nyasar itu. Petunjuk arah di Bangkok semuanya menggunakan tulisan Thailand. Tentu saja kami tidak mengerti sama sekali. Untungnya, semua orang yang kami lewati sangat ramah memberi petunjuk meskipun kemampuan berbahasa Inggris mereka terbatas.

Setelah berjalan kaki kurang lebih sejauh 3 kilometer, kami disarankan naik bus ke arah Wat Pho. Kami ikuti saja. Dengan membayar ongkos bus kota sebesar 6 THB atau setara dengan Rp. 2.400,-, akhirnya kami sampai di Wat Pho. Karena masyarakat Thailand sedang berduka, maka banyak jalan di sekitar Wat Pho dan Royal Palace yang ditutup. Mau tidak mau, tetap saja kami harus berjalan kaki menembus kemacetan Bangkok.

Harga tiket masuk ke Wat Pho sebesar 100 THB atau setara dengan empat puluh ribu rupiah. Cukup murah untuk turis asing seperti kami. Saya dan teman-teman bisa berkeliling sampai puas. Kami telusuri area Wat Pho sampai ke sudut-sudut belakang. Tak terlewatkan, kami juga menikmati keindahan Sleeping Budha. Sayangnya, sedang ada renovasi di bagian kakinya, tapi tak mengurangi keindahan Sleeping BudhaBanyak jamaah Budha yang sedang sembahyang di tempat ini. Ketika saya sukses mengambil foto berlatar belakang Sleeping Budha, datanglah seseorang yang menyatakan bahwa saya akan mendapatkan keberuntungan setelah ini karena berhasil berfoto dekat dengan Sleeping Budha. Saya senyum-senyum saja mendengarnya. Perjalanan kami ke Wat Pho ditemani oleh hujan deras yang datang tiba-tiba. Kami pun harus berteduh dulu di dalam bangunan.

Chatuchak Weekend Market

Bangkok memang surganya belanja. Salah satu tempat favorit wisatawan maupun orang Bangkok sendiri adalah Chatuchak Weekend Market. Namanya saja Weekend Market, tentu saja pasar ini hanya ada di hari Sabtu-Minggu. Tas, baju perempuan dan laki-laki yang jenisnya macam-macam, hingga pernak-pernik semua dijual rata-rata seharga 100 THB. Jajanan khas Thailand tidak ketinggalan dijual di pasar murah ini. Banyak pengunjung yang datang ke pasar ini dengan membawa koper. Saking banyaknya yang dibeli mungkin, ya.

Bagi kaum Muslim, tak perlu bingung mau makan apa. Di sini tersedia warung makan khusus Muslim atau Moeslim Food. Ada beberapa titik yang letaknya agak ke dalam pasar. Penjualnya orang Malaysia, jadi masakan yang dijual adalah masakan khas India dan Malaysia. Nasi briyani dan kare menjadi primadona. Harga seporsi nasi briyani plus ayam 70 THB atau setara dengan Rp. 28.000,-. Cukup murah, kan?

Cuaca panas menggoda saya untuk membeli minuman segar. Pernah menikmati Thai Tea di Indonesia? Nah, kalau ke Thailand, jangan sampai melewatkan kesegaran Thai Tea. Benar saja, rasanya beda dengan Thai Tea yang biasa saya beli di Indonesia. Segelas Thai Tea harganya 50 THB. Ada juga Thai Tea yang harganya 100 THB, tergantung ukuran gelas. Thailand juga terkenal dengan mangga dan jeruk yang melimpah. Satu gelas jus mangga dan jeruk botol kecil sekitar 300 ml dipatok harga 25 THB atau setara dengan Rp. 10.000,-, sedangkan jus botol besar 500 ml harganya 40 THB atau setara Rp. 16.000,-. Buah-buah potong tak kalah berlimpah. Satu kantong buah potong harganya 50 THB untuk buah naga merah potong, 30-40 THB untuk melon, pepaya, dan jambu. Kalau kamu jalan-jalan ke Bangkok, puas-puasin makan buah.

Oh ya, untuk menuju Chatuchak Weekend Market, lebih gampang naik MRT saja. Kami berangkat dari tempat kami menginap di daerah Shuttisan. Biayanya 31 THB atau setara dengan Rp. 12.400,- dan hanya melewati lima stasiun.

Nah, kalau teman-teman ingin berkunjung ke kota Bangkok, lebih baik hunting tiket dari jauh-jauh hari agar mendapat tiket yang lebih murah. Bangkok termasuk kota yang panas, jadi jangan lupa pakai sunblock. Tingkat kemacetan kota ini juga sangat tinggi. Karena harga tiket MRT agak mahal, banyak warganya yang menggunakan bus kota. Siapkan uang receh kalau kamu ingin naik bus kota. Oh ya, Bangkok sudah ada layanan Grab taxi dan Grab car. Harganya tidak mahal kok, sama saja dengan Jakarta. Nilai tukar rupiah di Bangkok rendah. Jadi, jangan lupa tukarkan rupiah ke THB dulu sebelum pergi ke sana. Siapkan juga uang dalam bentuk dollar.

Pastikan kamu menggandakan dokumen perjalanan dan ditaruh di semua tas bawaanmu. Uang pun demikian. Taruhlah di beberapa tempat. Kartu ATM sebaiknya diletakkan terpisah. Kalau bepergian ke luar negeri, yang terpenting adalah paspormu tidak boleh terpisah dari badan dan jangan lupa simpan nomor telepon KBRI setempat.

Happy traveling! 🙂

Foto koleksi milik @andini_harsono dan @sankgendot

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here