Setelah sempat gagal berkunjung ke Myanmar beberapa bulan lalu karena alasan keamanan, akhirnya saya bisa berkunjung ke Yangon, Myanmar. Tuhan memberikan kesempatan pada saya untuk menikmati keindahan Myanmar meskipun hanya di Yangonnya saja melalui undangan misi perdagangan dari KBRI Yangon bekerja sama dengan Pemerintah Myanmar.

Awalnya sempat ada kecemasan karena Rohingya yang begitu dahsyat beritanya. Namun dengan keyakinan dari teman-teman KBRI bahwa di sana baik-baik saja, maka dengan yakin pula saya berangkat. Menggunakan pesawat Malaysia Airlines (MH) yang lepas landas pukul 04.25 WIB, saya sampai di Yangon Internasional Airport (RGN) pukul 11.00 waktu setempat.

Jika ingin bepergian ke Yangon, Anda bisa menggunakan maskapai yang low price, seperti Jet-Star, Scoot, atau Malindo. Hanya saja maskapai-maskapai tersebut belum termasuk bagasi. Anda bisa membeli bagasi jauh-jauh hari, atau ketika Anda memesan tiket, tapi pastikan berat koper Anda terlebih dahulu agar bisa menghitung biaya bagasinya. Saya pribadi memilih menggunakan MH karena sudah termasuk bagasi 30 Kg dan meals. Transit di Kuala Lumpur hanya 1 jam dan ada entertainment-nya. Ini sangat membantu mengatasi kebosanan karena menempuh perjalanan kurang lebih 6 jam.

Ada cara lain bepergian ke Yangon dengan cara asyik kalau Anda memiliki waktu luang yang lebih fleksible. Naik saja pesawat dengan transit di Singapura lebih dari 8 jam, seperti Jet-Star. Selama masa transit itu, Anda bisa city tour dulu di Singapore, ya minimal bisa foto-foto di patung Merlion yang hits itu… hehe. Tapi kalau untuk bisnis, ya lebih baik yang tidak lama-lama transitnya karena pasti dikejar sama waktu.

Begitu melewati imigrasi, saya dan rombongan didatangi porter berbahasa Myanmar. Kemudian local staf KBRI datang menghampiri dan beliau adalah orang Myanmar asli, sehingga beliau membantu berkomunikasi dengan para porter itu. Karena perjalanan saya merupakan perjalanan bisnis, transportasi sudah diatur panitia. Tapi bagi Anda traveller, dari Bandara bisa menggunakan bus atau taksi yang harganya tidak terlalu mahal. Pastikan sudah memiliki hotel untuk menginap, ya.

Yangon itu hampir sama dengan Jakarta, kotanya macet juga. Di sana sudah lebih maju dan banyak mobil. Jangan kaget, setirnya bisa kiri bisa kanan. Mobil-mobil tersebut datang dari Eropa dan Jepang. Sepanjang mata memandang, bangunannya terlihat kuno dan tidak rapi. Waktu saya bertanya kenapa tidak ada bangunan bagus di sana, jawabannya karena kalau ada bangunan direnovasi akan diduga korupsi. Waw juga ya.

Saya dan rombongan menginap di Agga Bed & Breakfast, No. 83, 11 Street, Middle Block, Lanmadaw, Yangon downtown, Yangon, Myanmar. Rate per night $7 dengan kualifikasi sharing room, sharing bathroom, free breakfast, wifi access. Saya dan rombongan dapat kamar isi 8 bed, sementara jumlah kami hanya berempat dan perempuan semua. Untungnya selama 4 malam menginap di sana tidak ada lagi yang menginap selain kami berempat. Jadilah kamar itu sudah seperti rumah sendiri… hehe.

HAL-HAL YANG PERLU ANDA KETAHUI APABILA INGIN BERKUNJUNG KE YANGON, MYANMAR

Saya berikan sedikit fakta berdasarkan pengalaman saya di sana, khususnya Yangon, karena saya memang hanya berkunjung di Yangon saja.

  1. Jangan lupa tukarkan dollar sebelum berkunjung ke Yangon. Myanmar menggunakan mata uang Kyat (ks). Tidak ada pecahan receh dalam bentuk logam. Semuanya uang kertas. Nominal paling kecil adalah 50 kyat (ks). Di sana hanya berlaku penukaran uang dari US Dollar, Dollar Singapore, dan Ringgit Malaysia. Rupiah tidak laku di sana… hehe. Mudahnya, 50 ks itu setara dengan 500 rupiah, nolnya ditambahkan 1. 1.000 ks setara dengan 10.000 rupiah, begitu seterusnya.Uang Kyat
  2. Myanmar memiliki izin bebas visa selama 14 hari untuk tujuan sosial budaya dan pariwisata. Untuk masuk ke negara ini lebih aman menggunakan udara daripada darat. Sama sekali tidak rekomen deh kalau lewat darat.
  3. Menggunakan sarung setiap hari. Jangan kaget ya. Anda akan menemukan laki-laki dan perempuan bersarung di sepanjang Anda berpapasan dengan mereka. Pakaian sehari-hari di sana memang sarung atau disebut dengan Long-yi (baca:long-ji). Motif antara perempuan dan laki-laki berbeda. Laki-laki lebih simple hanya garis-garis, tanda plus, tanda minus, tanda sama dengan, atau kotak. Kalau perempuan, nah penuh warna dan corak. Kalau dilihat sepintas, coraknya mirip tenun dan songket. Biasanya, mereka gunakan itu setelan atas bawah sama. Jadi ukuran Long-Yi perempuan lebih besar daripada laki-laki. Kalau Anda ingin membeli oleh-oleh Long-Yi, Anda bisa beli di New Bogyoke Market yang letaknya berada di Junction City Mall (mal baru di Yangon yang paling bagus). Harga 1 Long-Yi untuk laki-laki hanya 4.000 ks atau setara dengan 40.000 rupiah. Long-Yi perempuan 5.000 ks atau setara dengan 50.000 rupiah.
  4. Masyarakatnya memiliki kebiasaan menyirih (menginang). Sepanjang jalan Anda akan menemui pedagang sirih, khususnya di dekat tempat ibadah. Oh ya, di Yangon sebagian penduduknya adalah keturunan India dan Bangladesh.
  5. Makanan halal di Yangon. Jangan khawatir, ada banyak masakan Indonesia di Yangon kok. Cuma lokasinya itu mungkin cukup jauh dari tempat Anda menginap. Anda bisa menyiasati dengan makan buah-buahan dan sayur-sayuran. Atau Anda bisa meminta saran pada hotel tempat Anda menginap di mana makanan muslim bisa didapatkan. Kalau saya biasanya bawa mi instan dari Jakarta, abon, atau rendang. Di sana saya lebih suka makan buah-buahan dan Japanese Food, seperti onigiri, sushi, dan sukiyaki.
  6. Waktu di Yangon lebih cepat 1 jam dari Jakarta. Pastikan Anda mengetahui perbedaan waktu ketika berkunjung ke suatu negara. Gunanya untuk menghitung waktu salat bagi kaum muslim. Kesulitan saya kemarin, di tempat-tempat umum di Yangon belum tersedia tempat ibadah bagi muslim.
  7. Bangunan yang hampir sama dan berbentuk blok. Karena jalan dan bangunannya bentuknya hampir sama semua, pastikan Anda mengingat patokan tujuan Anda, misalkan jalan menuju hotel. Biasanya hotel akan memberikan maps dan mereka juga menjelaskan letak serta jalan terdekat.
  8. Harga lebih murah dari Jakarta. Jangan cemas, harga-harga di Yangon lebih murah dibandingkan Jakarta.
  9. Di mana-mana ada pagoda dan burung dara. Pagoda terkenal yang menjadi icon Myanmar adalah Shwedagon Pagoda. Sayangnya saya tidak sempat ke sana. Apabila nasib Anda sama seperti saya, Anda bisa mengunjungi Sule Pagoda yang letaknya tidak jauh dari New Bogyoke Market. Naik taksi hanya 2.000 ks.

Kira-kira begitu ringkasan perjalanan saya ke Yangon kemarin. Singkat namun sungguh berkesan. Tidak ada perbedaan mencolok di sana. Masyarakatnya hidup rukun berdampingan, ramah, dan suasananya yang nyaman membuat saya ingin kembali lagi ke Yangon untuk jalan-jalan dan bisa eksplorasi lebih dalam lagi tentang Myanmar. Siapa ingin bergabung Sahabat #bloggercihuy?

Chezu Tinbade Myanmar
(Terima kasih Myanmar)

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here